Budaya Mengantri

Hai apa kabar?
Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang perjalanan saya selama sepekan ke Jepang. Bukan cerita tentang suatu tempat, tetapi salah satu kebiasaan di sana.

Mengantri.
(widih sampai di-bold-italic-underline)
Gak kok gak salah. Beneran saya mau sedikit bercuap-cuap soal mengantri.

Kalau orang Indonesia, yang saya perhatikan terhadap antrian adalah kurang sabaran, maunya menyalip seenaknya (meskipun ngga semuanya kayak gitu). Kalau di Jepang, waduh Ga bisa sembarangan. Harus mau sabar dan menanti (?). Kalo ngga, ya nanti bakal jadi bahan omongan orang sana. Kan ga enak, udah mah kita hanya sebagai orang asing di sana, malah bertingkah seenak jidat. Prinsip when you in Rome, do as Romes do di Jepang sangatlah terasa.
Misalnya, antrian di toilet. Kalau orang Indonesia biasanya ngantri di depan pintu toilet, di Jepang orang akan ngantri jauh dari pintu, Ada batas khusus antrian toilet. (sebenernya hal ini udah pernah saya lihat dan alami waktu dulu ngantri toilet di salah satu  mal di Kuala Lumpur) Enaknya, yang udah dateng lebih awal ga usah takut diserobot. Ga enaknya kalau udah di ujung tanduk aja sih (hehehe, untung ga kejadian kayak gitu).

Di eskalator juga sama. Kalau lagi santai dan gak dikejar waktu, biasanya akan ngantri di sebelah kiri eskalator dan di sisi kanan akan dikosongkan untuk orang yang sedang terburu-buru (di osaka posisi sebaliknya). Ga menutupi jalan gitu. Hal ini gak hanya di stasiun kereta/subway saja, di mall juga begitu. Beda banget sama orang indo yang suka langsung duaan aja alias sejajar. (apalagi kalo yang lagi pacaran) Hahaha. Mending kalau orangnya lagi santai, Lah kalau dikejar waktu? Kasian meureun.

Gak hanya orang mengantri, pengemudi mobil di jalan pun sama. Eh beneran. Meskipun ada celah buat menyalip mereka gak akan melakukan itu. Mereka akan sabar menunggu gilirannya. Kalau kata ayah saya, “Jepang terlalu tertib, gak rame (buat nyetir).”

Sepulang saya dari sana, sempat kaget juga sama masalah antri. Baru saja dialami kemarin pas jalan-jalan di Bandung (20130915).Udah kebiasaan tertib ngantri eh malah diserobot. Di eskalator juga sama, otomatis saya memosisikan diri di sebelah kiri dengan maksud memberi jalan (yang ternyata gak berguna, watir pisan) . Sedih aja rasanya. Seandainya bisa tertib antri semuanya bisa lancar dan damai.

Lepas dari masalah antrian, saya jadi teringat efek waktu pulang dari Kuala Lumpur. Karena di sana kebiasaan naik monorel tiap berjalan-jalan, ketika pulang ke indonesia dan berangkat ke sekolah, hampir lupa bilang “kiri, kiri, ” buat turun dari angkot. Untung aja kali ini gak kayak gitu. Kalo iya, malu banget hahahah

Yak segitu yang bisa saya ceritakan. Dadah~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.