Belajar Bahasa Memang Bisa Otodidak, Tapi….

Tidak semua orang bisa menyampaikan materi yang sudah dipelajari dengan cara yang baik.

Maaf aja saya triggered ketika lihat seseorang yang bilang

“saya masih pemula dalam bahasa jepang. Kira-kira aneh nggak kalau saya buka les berbayar gitu. Belajarnya modal Youtube dan Kamus doang. Oh dan saya belum punya N5 juga”

di akun mention fess buat Jejepangan.

Kalau yang mengikuti akun tersebut hanya orang yang sesama awam ya pertanyaan ini bisa jadi angin lalu. Tapi… karena ini akun buat semua orang yang suka jejepangan (anime, manga, novel, apapun yang suka tentang jepang) sudah tentu yang mengikuti akunnya juga pasti punya beragam level kemampuan dalam bahasa Jepang, dari yang mendasar sampai yang level master.. hal ini tentu memancing keributan (meski hanya bertanya ya sendernya).

Apa saja yang membuat sebagian orang marah dengan hal ini?

1. Terkesan menyepelekan dan bisa jadi menghina orang yang belajar Bahasa Jepang dengan susah payah. Orang belajar bahasa dengan susah payah…. bisa jadi lebih dari 10 tahun buat belajar satu bahasa. Lah dia baru juga mulai sudah memantik amarah orang-orang yang belajar susah payah.

2. Belum punya sertifikat kemampuan bahasa Jepang tapi berani buat ngajar. Apalagi dengan sumber bahan yang hanya berasal dari VIDEO YOUTUBE dan KAMUS.

Sedikit info, untuk mengukur kemampuan bahasa jepang itu ada semacam TOEFL tapi dibagi ke dalam 5 level, dari level mendasar (N5) sampai level paling tinggi (N1), dan yap, makin kecil angka makin sulit bahasanya. Nah masalahnya adalah, bagaimana kita bisa mengetahui kemampuan dia sementara dia punya sertifikat bahasa aja nggak. Bingung gak? Bahkan orang yang punya N1 aja belum tentu mau untuk mengajarkan bahasa Jepang karena ya sesusah itu. Bahkan dosen/guru privat aja banyak baca buku LAGI buat mengajarkan materi kalo di kelas. Ini… youtube doang??????? Kamus doaaaang???

3. Beban moral.

Mengajar itu sedikitnya ada beban moral. Kalau orang yang kita ajarkan salah menggunakan bahasa, siapa yang bertanggung jawab? Pasti yang ditanya duluan adalah “kamu belajar bahasa Jepang di mana” kalau otodidak, okelah mungkin masih bisa dimaklimi. Kalau sama orang lain? Yang ngajarnya yang bakal ditanya kredibilitasnya. Berat.

Hampir semua orang menyuruh dengan baik-baik agar pengirim pesannya tidak melakukan hal tersebut (meski aslinya banyak yang mengutip tweetnya lalu marah-marah di akun sendiri). Namun, sayang sekali masih banyak yang salah mengira kalau yang dipermasalahkan adalah belajar otodidak (bisa dilihat dari balasan tweet ini). Padahal, yang dipermasalahkan adalah BAHAN YANG DIPAKAI BUAT MENGAJAR PENGIRIMNYA (Youtube dan kamus saja) dan belum memiliki bukti kemampuan bahasa tapi sudah berani menawarkan diri buat mengadakan les berbayar.

Saya juga tidak menutup mata terhadap kemungkinan adanya orang yang memang bisa mengajarkan orang lain berkat kemampuan otodidak yang diperoleh ketika mempelajari bahasa (atau apapun itu selama bisa menjadi ilmu maupun pengetahuan melalui media belajar bahasa yang saat ini sudah banyak sekali rupanya) maupun orang yang meski tidak memiliki sertifikat sebagai bukti kemampuan namun di lapangan pengalaman mengajar dan menggunakan bahasanya udah jauh lebih banyak daripada yang punya sertifikat itu sendiri. Tapi…. ini…. masih pemula….

Dari pada bikin orang julid, nih saya kasih solusi (yang saat ini juga sedang saya lakukan sebagai riset buat saya sendiri). Daripada ngajar, yang bebannya lebih berat, saya lebih menyarankan untuk belajar bersama. Maksudnya, si pengirim ini jadi pemimpin buat belajar bareng. Saya juga kali ini sedang mengadakan belajar bersama buat N2 dengan adik kelas saya. Karena kalau saya memprivat dia saya gak yakin sama kemampuan saya sendiri (sayanya juga baru N2) dan saya tau kemampuan saya seperti apa. Kalau N3 saya masih mau kasih privat tapi kalau N2? No thanks. Toh dengan belajar bareng juga jadinya saya juga belajar lagi.

Kalau saya berusaha positif, mungkin sendernya masih belum memahami betapa sulit mengajar sesuatu, tapi kalau saya mau julid, ini orang cuma mau memancing keributan. Untungnya, seperti yang saya bilang di atas, dia masih bertanya saja, belum ke tahap merealisasikan rencananya itu. Kalau benar merealisasikannya…

Iya kadang bingung sama orang kenapa kelakuannya ajaib (beneran ajaib sampe bikin saya geleng-geleng kepala dibuat tidak habis pikir).

2 thoughts on “Belajar Bahasa Memang Bisa Otodidak, Tapi….

  1. Itu sender cuma bonek alias bondo nekat (modal nekat) aja kak hehehe semangat kak. Saya jurusan pendidikan sejarah saja belum merasa mumpuni dalam hal mengajar, ditambah minim pengalaman. Apalagi ngajar bahasa kayak gt. Bahasa Indonesia aja mungkin masih belum baik apalagi bahasa asing.

  2. Tapi serius senekat itu pertanyaannya sampai rasanya ingin marahi langsung gitu lho. Sembarangan kali ngomongnya 😭
    Yap, betul sekali. Ga hanya bahasa, semua ilmu pengetahuan juga gitu. Mangats calon guru 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.