Sebulan semenjak status pandemi dimulai di Indonesia… jadi… apa yang kamu lakukan, zah?

Bagi orang yang ekstrovert, pandemi seperti saat ini yang membuat kita harus bisa produktif tanpa harus bertemu dengan orang banyak, adalah sebuah musibah, karena bagi mereka, orang lain adalah sumber energi untuk bisa terus melakukan aktifktas. Sementara buat orang introvert, masa-masa seperti ini adalah masa yang, mungkin, bisa saja menjadi anugerah karena tidak perlu keluar rumah kalau tidak penting-penting amat.

Buat saya sendiri, masa-masa ini… entahlah…. serba campur aduk. Selain itu terlalu banyak pemberitaan yang negatif membuat saya semakin lelah buat mengecek berita sehingga saya hampir tidak pernah mengecek berita terbaru biar tetap waras. Tapi saya juga memang bukan yang doyan main jadi sebenarnya ya tidak keberatan kalau harus diam di rumah. Jadi intinya, saya kayak memanfaatkan masa sekarang buat malas-malasan (?). Malah kayaknya saya kebanyakan nongkrong di twitter akun sebelah (akun yang difokuskan untuk menyampah soal komik pada umumya) cuma buat lihat apa yang lagi jadi hits pada saat itu.

Tapi ada beberapa kebiasaan baru di rumah, yaitu….

-sholat berjamaah dan baca kisah yang ada di hadits setiap hari. Diawali dari usulan bapak yang HAMPIR JARANG DI RUMAH SELAIN BUAT ISTIRAHAT DOANG, hampir menjadi kebiasaan setiap hari untuk melakukan ini. Selama memaca/mendengarkan kisah-kisahnya tersebut, saya selalu takjub mendengar kisah para sahabat Rasulullah shollallohu’alaihiwasallam. Rasul dan para sahabat serta mereka yang sudah dijamin masuk syurga itu betul-betul orang yang sangat menjaga keimanan mereka, menjaga sikap agar tetap amanah dengan titipan, hidup sederhana meski sebenarnya mampu, dan selalu berdoa dan berdzikir. Sesuatu yang bahkan saat saya mendengarnya, saya yakin kalau saya belum tentu akan bisa melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh beliau semua. Terutama mengenai kesederhanaan dan sabar.

-masak. Yaaaa meski bukan yang wah banget, pada dasarnya saya emang doyan ngemil tapi super duper perhitungan dengan masalah uang. Beli yang sudah jadi itu emang enak, kita tinggal hap makan deh…. Tapi… ya itu, kalau misalnya menghitung harga yang dibutuhkan untuk membuat makanan yang dibeli sebenarnya TIDAK SEMAHAL ITU. Sudah gitu kadang ibu saya juga bawel menyuruh saya buat cemilan atau makan gitu…. bosen sama masakan bibi ceunah. Yawes. Kerjaan saya bertambah: buka cookpad buat cari resep yang jitu dan anti gagal 🤣. Beberapa yang berhasil dibuat adalah: donat kentang, spaghetti carbonara, baso tahu/pangsit, tteokbokki, kimchi, hmmm….. apalagi ya. Tapi kayaknya gegara ini juga saya harus lebih rajin kontrol makan soalnya bawaannya makan mulu.

Ngomong-ngomong, sebenarnya saya gregetan soal kimchi. Sejak makan di salah satu restoran Korea, saya jadi ketagihan kimchi kan. Nah saya kan greget tuh sebenarnya buat kimchi itu nggak susah, bisa pakai bahan lokal. Tapi… pas saya cek di cookpad, kok beda-beda ya…. karena saya ga mau buang-buang uang buat sesuatu yang kemungkinan besar hanya saya yang makan, jadinya saya iseng tanya-tanya di twitter, teman saya ada yang berbaik hati buat ngasih resep yang mantul dan anti gagal. Resep dari Maangchi, orang Korea yang tinggal di U.S…. dan hasilnya… asli sekali buat langsung jadi! Anti gagal 😆😆😆 resep bisa dicek di sini ya: https://www.maangchi.com/recipe/easy-kimchi. catatan dari saya: mau gimanapun bumbu lokal bisa dipakai buat masak masakan korea, ternyata bubuk cabenya beda banget. Jadinya saya beli deh yang emang biasa dipakai orang korea. Namanya gochugaru. Sekilas memang kayak bubuk cabe lokal. Warnanya juga solah-olah menunjukkan kalau itu pedas banget… tapi, kalau soal rasa, aslinya sih….. masih lebih pedas cabe bubuk lokal. kata teman saya yang merekomendasikan resep Maangchi, bubuk cabe lokal malah bikin kimchi jadi terasa pahit. Makanya dia menyarankan buat beli bubuk gochugaru biar autentik rasanya. Welp… saya akui memang manjur banget itu resep Maangchi. Udah gitu bisa kita modif pula resepnya. Btw, buat saya yang ga gitu doyan pedas, gochugaru mau ditaburin banyak juga MASIH GA PEDAS :))))). Masih lebih pedas bon cabe lebel 3 :”)

Meski tidak estetik, ini buatan saya sendiri. (Mangkok biru: tteokbokki, mangkok putih: kimchi)

Saya doyan makan tapi jangan terlalu asin/gurin/manis. Bumbu kuat macem masakan kaya rempah oke lah…. selama bukan ikan yang masih bentuk ikan. Maksudnya…. daya bisa makan ikan asal udah diolah jadi macam bakso atau yang ga ada tulangnya…. sungguh udah kayak sugesti banget tiap liat ikan nafsu makan langsung menguap begitu saja hahahahah. (Semoga ga ditenggelamkan bu Susi aja 😦 maafkan sayah)

-ngurus kucing. Yaaaah… ini sih…. setiap saat ya… tapi saya masih greget gimana cara membuat mereka berdua akur

Genji
Tobi

Sudah hampir 7 bulanan sejak genji datang… dan masih belum bisa akur sama Tobi🤣 jadinya pasrah aja. Sesuka mereka. Tapi saya masih pengem mereka akur gimana ya…

-Baca komik genre isekai. Srsly sejak 2019 jadi keranjingan komik isekai. Bukan yang macem SAO, tapi yang memang ditujukan untuk pembaca perempuan 🤭😂

-kalau yang serius lagi…. sejak ada pandemi ini juga… sebenarnya saya suka dengan udara di sekitar rumah. Rasanya kayak 10 tahun lalu… pagi-pagi harus pakai jaket saking dinginnya cuaca bandung. Selain itu… senang banget lihat langit yang bersih… jalanan juga bersih… yaa maaf aja saya kadang keluar buat belanja kebutuhan rumah dan kebutuhan buat bikin cemilan /ngga gini juga sih heuheu tapi yang belanja mah beneran kok.)

Ada satu hal yang membuat saya sedih. Ramadhan tahun ini. Semoga bisa bertemu dengan ramadhan yang tinggal menghitung hari. sedih banget. Terus jadi kepikiran juga sih… kita yang baru sebulan aja udah kek yang repooooot banget. Kebayang para korban peperangan ego penguasa semacam korban di gaza, palestina, kaum rohingya, uyghur, india… yang tiap hari serba kekurangan, tidak bisa beraktivitas dengan normal hampir setiap harinya, dan ancaman mati yang benar-benar nyata dan dekat dengan mereka :(((

Semoga pandemi ini segera berakhir. /penutupnya krik banget dah. Sampai. jumpat di postingan berikutnya.

Oh ps. saya ga suka sistem block terbaru wordpress. Tapi mungkin karena baru kali ini aja submit pakai layout terbaru :((

2 thoughts on “Sebulan semenjak status pandemi dimulai di Indonesia… jadi… apa yang kamu lakukan, zah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.